Girls Talk Pariaman: Muhajir Muslim Ajak Siswi Bangun Izzah Muslimah dan Hargai Masa Depan

PARIAMAN — Menjadi perempuan berdaya bukan hanya tentang keberanian meraih cita-cita, tetapi juga kemampuan mengenali harga diri, menjaga prinsip, dan mengambil keputusan yang baik bagi masa depan. Pesan inilah yang mengemuka dalam kegiatan Girls Talk bertema “Ruang Aman bagi Perempuan: Perempuan Itu Berdaya, Jaga Diri, Hargai Masa Depan” di Aula Rumah Makan Joyo Makmur, Kota Pariaman, Sabtu (17/10/2026). Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., hadir sebagai narasumber dalam kegiatan yang digagas Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kota Pariaman tersebut. Puluhan peserta yang terdiri atas siswi SMA, SMK, MA, dan sederajat se-Kota Pariaman mengikuti kegiatan yang membahas pemberdayaan perempuan di tengah tantangan pergaulan modern. Dalam kesempatan itu, Muhajir menyampaikan materi mengenai membangun izzah muslimah di tengah tantangan pergaulan modern. Pembahasan ini menempatkan harga diri, nilai keislaman, dan kemampuan menjaga prinsip sebagai bekal penting bagi perempuan muda dalam menjalani kehidupan. Menjadi Muslimah yang Berdaya dan Mengenali Nilai Diri Masa remaja merupakan fase ketika seseorang mulai membentuk identitas, memperluas pergaulan, dan menentukan arah masa depan. Pada fase ini, pengaruh lingkungan pertemanan, tren, serta media sosial dapat ikut membentuk cara pandang terhadap diri sendiri. Karena itu, pembicaraan mengenai ruang aman bagi perempuan menjadi relevan. Perempuan muda perlu mendapatkan lingkungan yang mendukung mereka untuk belajar, menyampaikan pendapat, mengembangkan potensi, dan bertumbuh tanpa tekanan maupun perlakuan yang merendahkan. Materi tentang izzah muslimah yang disampaikan Muhajir mengangkat pentingnya memahami kemuliaan dan kehormatan diri sebagai seorang muslimah. Nilai tersebut dapat tercermin melalui sikap, tutur kata, cara bergaul, serta keputusan yang diambil dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga kehormatan diri bukan berarti membatasi perempuan untuk berprestasi atau berpartisipasi di ruang publik. Sebaliknya, perempuan tetap dapat aktif dalam pendidikan, organisasi, kegiatan sosial, dan berbagai bidang lainnya dengan berpegang pada nilai yang diyakini. Perempuan berdaya juga bukan perempuan yang harus menghadapi seluruh persoalan sendirian. Mereka berhak mendapatkan dukungan, didengarkan ketika menghadapi kesulitan, dan memperoleh pertolongan saat berada dalam situasi yang tidak aman. Ruang Aman Dimulai dari Lingkungan yang Menghargai Tema Girls Talk kali ini tidak hanya mengajak peserta berbicara tentang bagaimana perempuan menjaga dirinya, tetapi juga membuka perhatian terhadap tanggung jawab lingkungan dalam menciptakan ruang yang aman. Ruang aman dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membangun pertemanan yang saling menghormati, tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan ejekan, menjaga privasi, serta berani menolak perilaku yang membuat seseorang merasa terancam atau tidak nyaman. Di era digital, tantangannya semakin beragam. Komentar merendahkan, perundungan daring, penyebaran foto tanpa izin, hingga tekanan untuk mengikuti tren tertentu dapat memengaruhi rasa aman dan kepercayaan diri perempuan muda. Dalam situasi seperti itu, kemampuan mengenali batasan pribadi dan mencari bantuan dari orang dewasa tepercaya menjadi hal penting. Sekolah, keluarga, organisasi kepemudaan, dan komunitas perlu mengambil peran agar perempuan muda mengetahui bahwa mereka tidak harus diam ketika menghadapi perlakuan yang tidak pantas. Pesan tentang menjaga diri dan menghargai masa depan dengan demikian tidak semestinya dibebankan kepada perempuan saja. Menciptakan ruang aman merupakan tanggung jawab bersama, termasuk dengan membangun budaya pergaulan yang menghormati martabat setiap orang. Apresiasi atas Kolaborasi untuk Perempuan Muda Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Pariaman, Endrawati, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Girls Talk dinilai menjadi ruang yang bermanfaat untuk menghadirkan pembahasan tentang perempuan, khususnya bagi kalangan pelajar yang sedang berada dalam fase penting pembentukan karakter dan jati diri. Apresiasi itu sekaligus menunjukkan pentingnya kerja sama antarlembaga dalam menghadirkan kegiatan edukatif bagi generasi muda. Persoalan perempuan tidak cukup dibicarakan dalam lingkup keluarga atau sekolah saja, tetapi membutuhkan dukungan berbagai pihak agar pesan pemberdayaan dapat menjangkau lebih banyak kalangan. Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kota Pariaman, Ayunda Siska, menyampaikan terima kasih kepada Muhajir Muslim atas kesediaannya bekerja sama dan memfasilitasi kegiatan tersebut. Bagi Nasyiatul Aisyiyah, kegiatan seperti ini menjadi kesempatan untuk mendekatkan ruang diskusi kepada kebutuhan nyata perempuan muda. Para siswi tidak hanya membutuhkan pengetahuan akademik, tetapi juga bekal untuk menghadapi persoalan pergaulan, membangun kepercayaan diri, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat diperkuat melalui pertemuan gagasan, dukungan kelembagaan, dan ruang dialog yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Menjaga Diri, Menyiapkan Masa Depan Melalui Girls Talk, para peserta diajak melihat bahwa masa depan dibangun melalui pilihan-pilihan yang dilakukan sejak sekarang. Pendidikan, pengembangan keterampilan, pemilihan lingkungan pertemanan, dan kemampuan memahami diri menjadi bagian dari proses tersebut. Menjaga prinsip tidak berarti menutup diri dari perubahan zaman. Perempuan muda tetap perlu belajar, berani mencoba hal baru, memperluas wawasan, serta memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan kemampuan. Yang terpenting, setiap langkah dijalani dengan kesadaran terhadap nilai diri dan konsekuensi dari keputusan yang diambil. Kegiatan di Aula Rumah Makan Joyo Makmur ini menjadi pengingat bahwa perempuan muda membutuhkan lebih dari sekadar nasihat. Mereka membutuhkan lingkungan yang mendukung, kesempatan untuk berkembang, serta orang-orang yang bersedia mendengarkan dan mendampingi. Pada akhirnya, membangun izzah muslimah bukan semata-mata tentang menjaga citra di hadapan orang lain, melainkan memahami nilai diri dan menjadikannya dasar dalam menjalani kehidupan. Dengan bekal tersebut, perempuan muda diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berprinsip, berprestasi, dan siap menghadapi masa depan. Melalui kolaborasi antara Nasyiatul Aisyiyah, Aisyiyah, dan berbagai unsur masyarakat, pesan tentang perempuan berdaya diharapkan tidak berhenti di ruang diskusi. Pesan itu perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, melalui lingkungan yang saling menghormati, kesempatan yang terbuka, dan komitmen bersama untuk menjaga ruang aman bagi perempuan.
Muhajir Muslim Hadiri Penutupan Porprov Sumbar 2026, Semangat Atlet Jadi Sorotan

PADANG PARIAMAN — Setelah hampir dua pekan menjadi panggung perjuangan atlet dari berbagai daerah, Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026 resmi berakhir pada Rabu (14/10/2026). Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., turut menghadiri seremoni penutupan yang berlangsung di Stadion Utama Sumatera Barat, Nagari Sikabu, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman. Penutupan tersebut bukan sekadar penanda berakhirnya pertandingan. Ada kerja keras atlet, pengorbanan pelatih, dukungan keluarga, dan kebanggaan daerah yang menyertai setiap medali maupun perjuangan yang belum berbuah kemenangan. Bagi Kota Pariaman, kehadiran Muhajir dalam momentum tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap penyelenggaraan olahraga daerah. Sebab, di balik kompetisi dan perolehan medali, terdapat pekerjaan yang jauh lebih panjang: memastikan para atlet terus mendapat ruang untuk berkembang dan membawa nama daerah ke tingkat yang lebih tinggi. Setelah Delapan Tahun, Pesta Olahraga Kembali Bergulir Porprov XVI Sumbar 2026 memiliki arti tersendiri bagi dunia olahraga Ranah Minang. Ajang yang berlangsung pada 2–14 Oktober itu kembali digelar setelah sempat terhenti selama sekitar delapan tahun. Penyelenggaraannya menggunakan konsep tuan rumah bersama dengan melibatkan 12 kabupaten dan kota. Skema ini memungkinkan pertandingan berlangsung di sejumlah daerah sesuai cabang olahraga yang dipertandingkan. Kota Pariaman menjadi salah satu lokasi pertandingan, termasuk untuk cabang olahraga sepatu roda, teqball, dan soft tenis. ANTARA Sumbar. Kembalinya Porprov menjadi kesempatan bagi atlet untuk menguji kemampuan, mengukur hasil latihan, sekaligus merasakan atmosfer kompetisi di tingkat provinsi. Bagi pelatih dan pengurus olahraga, ajang ini juga menjadi ruang evaluasi untuk melihat potensi yang perlu dikembangkan setelah pertandingan usai. Seremoni penutupan turut dimeriahkan dengan pertandingan final sepak bola, penampilan Polisi Cilik, serta kegiatan pendukung lainnya. Ribuan mata yang tertuju pada arena menjadi gambaran bahwa olahraga memiliki daya tarik untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah dalam satu semangat. Kota Pariaman Punya Catatan Prestasi Partisipasi Kota Pariaman dalam Porprov kali ini juga diwarnai capaian membanggakan. Pemerintah Kota Pariaman sebelumnya menyampaikan bahwa kontingen daerah tersebut membawa 260 atlet yang bertanding pada 35 cabang olahraga. Pemerintah Kota Pariaman. Salah satu hasil yang menonjol datang dari cabang olahraga sepatu roda. Kota Pariaman berhasil menjadi juara umum dengan mengumpulkan 27 medali, terdiri atas 14 emas, delapan perak, dan lima perunggu. Capaian itu menjadi salah satu catatan positif dari penyelenggaraan Porprov di Kota Pariaman. Pemerintah Kota Pariaman. Prestasi tersebut tentu tidak hadir dalam satu malam. Di baliknya ada latihan berulang, kedisiplinan, kesiapan mental, serta dukungan orang-orang yang mendampingi atlet selama proses pembinaan. Namun, ukuran keberhasilan olahraga tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah medali. Atlet yang telah berjuang dengan sportif, memperoleh pengalaman bertanding, dan mengetahui kekurangan yang perlu diperbaiki juga membawa bekal penting untuk kompetisi berikutnya. Karena itu, berakhirnya Porprov seharusnya tidak membuat perhatian terhadap atlet ikut meredup. Justru setelah kompetisi, pembinaan perlu dilanjutkan dengan evaluasi yang terukur, latihan yang konsisten, serta dukungan yang sesuai dengan kebutuhan setiap cabang olahraga. Menjaga Semangat Setelah Api Porprov Padam Dalam penutupan Porprov XVI, Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy menekankan pentingnya sportivitas, kekompakan, dan persaudaraan. Kompetisi, menurut pesan yang disampaikannya, semestinya mempererat hubungan antardaerah, bukan menjadi alasan untuk saling memisahkan. Ia juga berharap pengalaman penyelenggaraan 2026 menjadi bahan evaluasi agar Porprov berikutnya pada 2028 dapat berlangsung lebih baik. AMCNews. Pesan tersebut relevan bagi seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dan lembaga yang memiliki fungsi dalam penganggaran serta pengawasan pembangunan. Pembinaan olahraga membutuhkan kesinambungan, mulai dari pencarian bibit atlet, penyediaan fasilitas latihan, peningkatan kapasitas pelatih, hingga kesempatan mengikuti kompetisi secara rutin. Kehadiran Muhajir Muslim pada penutupan Porprov menjadi bagian dari momentum kebersamaan para pemangku kepentingan dalam mendukung olahraga daerah. Ke depan, tantangannya bukan hanya melahirkan prestasi pada satu ajang, melainkan menjaga agar potensi atlet Kota Pariaman terus tumbuh dan memiliki jalur pembinaan yang jelas. Pada akhirnya, peluit terakhir Porprov XVI memang telah berbunyi. Namun, perjalanan atlet belum selesai. Bagi mereka yang membawa pulang medali, kemenangan menjadi penyemangat untuk melangkah lebih jauh. Bagi yang belum berhasil, pengalaman bertanding dapat menjadi bekal untuk kembali berlatih. Semangat olahraga akan benar-benar terasa manfaatnya ketika pertandingan berakhir, tetapi perhatian terhadap atlet tetap berlanjut. Dari sanalah prestasi daerah dibangun—bukan hanya melalui kemenangan sesaat, melainkan melalui pembinaan yang konsisten, sportivitas, dan kerja sama semua pihak.
Peringatan Maulid Nabi: Muhajir Muslim Ajak Jamaah Masjid Nurul Iman Jadikan Rasulullah sebagai Teladan Kehidupan

PARIAMAN — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Iman, Desa Naras 1, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, menjadi ruang bagi jamaah untuk kembali mengingat keteladanan Rasulullah SAW dalam menjalani kehidupan. Pada kesempatan tersebut, Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., hadir sebagai penceramah. Di hadapan jamaah, Muhajir mengajak umat Islam untuk tidak hanya memperingati kelahiran Rasulullah SAW sebagai bagian dari tradisi keagamaan, tetapi juga menjadikan kehidupan dan akhlak beliau sebagai pedoman dalam keseharian. Pesan tersebut menjadi inti ceramah Muhajir dalam kegiatan Maulid Nabi yang berlangsung di Masjid Nurul Iman. Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah seharusnya tidak berhenti pada ungkapan dan peringatan, tetapi diwujudkan melalui perilaku yang mengikuti ajaran serta keteladanan beliau. Rasulullah sebagai Suri Teladan Dalam ceramahnya, Muhajir mengajak jamaah untuk melihat kembali bagaimana Rasulullah SAW menjalani kehidupan. Nabi Muhammad dikenal bukan hanya sebagai pembawa risalah, tetapi juga sebagai sosok yang memberikan contoh dalam berhubungan dengan Allah, keluarga, tetangga, masyarakat, hingga orang-orang yang berbeda pandangan dengan beliau. Keteladanan itu, menurut Muhajir, tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan umat Islam saat ini. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, umat menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi dan media sosial, misalnya, membuat seseorang semakin mudah berkomunikasi, tetapi pada saat yang sama juga dapat memengaruhi cara berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Karena itu, nilai-nilai yang dicontohkan Rasulullah seperti kejujuran, kesabaran, kasih sayang, amanah, dan kepedulian terhadap sesama menjadi penting untuk terus dihidupkan. Muhajir menekankan bahwa meneladani Rasulullah bukan berarti hanya mengingat sejarah kehidupan beliau, tetapi berusaha menghadirkan akhlak Rasul dalam kehidupan nyata. Keteladanan Dimulai dari Lingkungan Terdekat Pesan Maulid yang disampaikan Muhajir juga dapat diterapkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Keteladanan tidak selalu harus diwujudkan dalam sesuatu yang besar. Cara seseorang berbicara kepada orang tua, memperlakukan pasangan dan anak, menghormati tetangga, serta menjaga hubungan dengan sesama merupakan bagian dari praktik akhlak sehari-hari. Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai persaudaraan dan kepedulian yang dicontohkan Rasulullah dapat menjadi landasan untuk memperkuat hubungan antarwarga. Masjid sebagai tempat berkumpulnya masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga nilai tersebut. Peringatan Maulid Nabi menjadi salah satu momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengingatkan kembali nilai-nilai agama yang terkadang terabaikan dalam kesibukan kehidupan. Muhajir mengajak jamaah untuk menjadikan peringatan Maulid sebagai titik awal melakukan refleksi. Seberapa jauh ajaran Rasulullah telah tercermin dalam kehidupan masing-masing menjadi pertanyaan yang penting untuk dijawab bersama. Maulid Bukan Sekadar Seremoni Peringatan Maulid Nabi pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Lebih jauh, momentum tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperkuat komitmen dalam menjalankan ajaran Islam. Bagi Muhajir, kecintaan kepada Rasulullah perlu terlihat dalam sikap. Ketika umat mengaku mencintai Rasulullah, maka nilai-nilai yang beliau ajarkan semestinya turut hadir dalam kehidupan sehari-hari. Pesan itu menjadi semakin relevan bagi generasi muda. Di tengah derasnya arus informasi dan beragam figur yang muncul di ruang digital, umat Islam perlu memiliki rujukan keteladanan yang kuat. Rasulullah SAW dapat menjadi sosok yang dijadikan contoh dalam membangun karakter, menjaga perkataan, mengambil keputusan, menghadapi persoalan, dan memperlakukan orang lain dengan penuh penghormatan. Kegiatan Maulid Nabi di Masjid Nurul Iman Desa Naras 1 pun menjadi ruang untuk mempertemukan nilai keagamaan dengan kehidupan masyarakat. Jamaah tidak hanya diajak mengenang Rasulullah, tetapi juga mengambil pelajaran dari akhlak beliau untuk diterapkan sesuai dengan tantangan kehidupan masa kini. Di tengah masyarakat yang terus berubah, keteladanan Rasulullah tetap memiliki tempat penting. Pesan yang disampaikan Muhajir mengarah pada satu hal sederhana: mencintai Rasulullah tidak cukup hanya dengan memperingati kelahirannya, tetapi perlu dibuktikan dengan usaha untuk mengikuti akhlak dan ajaran beliau dalam kehidupan. Dengan demikian, Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Allah, memperkuat hubungan dengan sesama, serta membangun kehidupan masyarakat yang lebih berakhlak dan saling menghargai.
Muhajir Muslim Ajak Pelajar Pariaman Menjawab Pertanyaan “WHO ARE YOU?”

PARIAMAN — Pertanyaan “Siapa kamu?” terdengar sederhana. Namun, bagi seorang pelajar yang sedang mencari jati diri, pertanyaan tersebut bisa menjadi awal dari perjalanan panjang untuk mengenal dirinya sendiri, memahami tujuan hidup, dan menentukan ke mana langkah akan diarahkan. Pesan itulah yang dibawa Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., ketika menjadi narasumber dalam kegiatan RADAR (Training Dasar) As-Salam Kota Pariaman, Minggu, 3 Oktober 2026, di Aula SMA Negeri 2 Kota Pariaman. Dalam kesempatan tersebut, Muhajir menyampaikan materi bertajuk “WHO ARE YOU? (Kenal Allah, Kenal Rasul, Kenal Arah Hidup)” di hadapan para peserta yang merupakan perwakilan siswa-siswi dari SMA dan SMK se-Kota Pariaman. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para pelajar untuk tidak hanya mendapatkan materi pelatihan, tetapi juga diajak berhenti sejenak dari rutinitas sekolah dan memikirkan pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa mereka hidup dan akan menjadi seperti apa mereka di masa depan? Bukan Sekadar Tahu Siapa Diri Kita Muhajir membuka pembahasan dengan mengajak para peserta memahami bahwa mengenal diri tidak cukup hanya dengan mengetahui nama, sekolah, hobi, cita-cita atau kelebihan yang dimiliki. Lebih jauh, seorang anak muda perlu memahami siapa dirinya di hadapan Allah, siapa sosok yang menjadi teladan dalam kehidupannya, serta ke mana kehidupan tersebut akan diarahkan. Di usia remaja, pertanyaan mengenai masa depan sering kali muncul bersamaan dengan berbagai pilihan. Pilihan jurusan kuliah, pekerjaan, pertemanan, lingkungan, aktivitas organisasi hingga penggunaan media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam situasi tersebut, seorang anak muda membutuhkan pegangan agar tidak mudah kehilangan arah. Muhajir mengajak peserta RADAR melihat bahwa perjalanan menemukan jati diri harus dimulai dari pertanyaan yang lebih mendasar. Mengenal Allah menjadi dasar untuk memahami posisi manusia sebagai makhluk. Mengenal Rasulullah menjadi jalan untuk menemukan teladan dalam menjalani kehidupan. Sedangkan mengenal arah hidup membantu seseorang menentukan tujuan dari setiap pilihan yang diambil. Kenal Allah, Bukan Sekadar Tahu Pada bagian pertama materi, Muhajir mengajak peserta memahami makna mengenal Allah. Menurutnya, mengenal Allah tidak berhenti pada pengetahuan bahwa Allah adalah Tuhan. Pengenalan tersebut harus tercermin dalam cara seseorang menjalani kehidupan. Ketika seorang anak muda memahami bahwa hidup memiliki pertanggungjawaban, maka pilihan-pilihan yang dibuat tidak semata-mata didasarkan pada apa yang sedang populer atau disukai lingkungan. Ada nilai yang menjadi pertimbangan. Ada batas yang harus dijaga. Dan ada kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi pelajar yang saat ini hidup dalam lingkungan digital. Media sosial menawarkan begitu banyak pilihan sekaligus tekanan. Anak muda dapat dengan mudah membandingkan kehidupannya dengan orang lain, mengikuti tren, mengejar pengakuan, bahkan menentukan nilai dirinya berdasarkan komentar dan jumlah pengikut. Karena itu, Muhajir mengingatkan pentingnya memiliki fondasi yang tidak mudah berubah hanya karena penilaian orang lain. Kenal Rasul, Temukan Teladan Pembahasan kemudian berlanjut pada pentingnya mengenal Rasulullah SAW. Bagi Muhajir, Rasulullah bukan hanya sosok yang dikenal melalui sejarah atau pelajaran agama. Kehidupan Rasulullah dapat menjadi sumber keteladanan bagi generasi muda dalam membangun karakter. Kejujuran, tanggung jawab, keberanian, kepedulian terhadap sesama dan keteguhan dalam menghadapi tantangan merupakan nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan pelajar. Nilai-nilai tersebut dapat dimulai dari hal sederhana. Jujur dalam mengerjakan tugas. Bertanggung jawab terhadap amanah organisasi. Menghargai guru. Menjaga pertemanan. Berani mengatakan yang benar. Serta memiliki kepedulian ketika melihat orang lain menghadapi kesulitan. Dengan begitu, mengenal Rasul bukan hanya menjadi pengetahuan, tetapi diterjemahkan menjadi perilaku. Kenal Arah Hidup Bagian terakhir yang menjadi perhatian Muhajir adalah arah hidup. Ia mengajak peserta untuk tidak sekadar bertanya, “Saya ingin menjadi apa?” tetapi juga “Untuk apa saya menjadi itu?” Pertanyaan tersebut penting agar cita-cita tidak berhenti pada jabatan, pekerjaan atau pencapaian materi. Seorang siswa boleh bercita-cita menjadi dokter, guru, pengusaha, teknisi, profesional, birokrat maupun berbagai profesi lainnya. Namun, di balik profesi tersebut harus ada nilai dan tujuan yang ingin diwujudkan. Dengan cara pandang seperti itu, keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi posisi seseorang, tetapi juga seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Pelajar Jangan Takut Bermimpi Di hadapan perwakilan pelajar SMA dan SMK se-Kota Pariaman, Muhajir juga mendorong peserta untuk memiliki keberanian bermimpi. Masa sekolah merupakan masa yang penting untuk mencoba berbagai hal. Mengikuti organisasi, mengembangkan kemampuan, membaca, berdiskusi, belajar berbicara di depan umum, mengembangkan keterampilan digital dan membangun pertemanan positif merupakan bagian dari proses menemukan potensi diri. Namun, ia mengingatkan agar aktivitas tersebut tetap memiliki arah. Jangan sampai kesibukan membuat seseorang lupa terhadap tujuan. Jangan pula pencapaian membuat seseorang kehilangan nilai yang menjadi pegangan. Karena itu, menurut Muhajir, generasi muda membutuhkan keseimbangan antara prestasi, karakter dan spiritualitas. RADAR Jadi Ruang Menemukan Diri Kegiatan RADAR As-Salam Kota Pariaman menjadi salah satu ruang bagi para pelajar untuk mendapatkan pengalaman di luar pembelajaran rutin di sekolah. Pertemuan para siswa dari berbagai SMA dan SMK se-Kota Pariaman juga membuka kesempatan untuk membangun jaringan pertemanan dan bertukar pengalaman. Di tengah kegiatan tersebut, materi “WHO ARE YOU?” memberikan ruang refleksi yang cukup dekat dengan kehidupan peserta. Mereka sedang berada pada fase ketika berbagai keputusan mulai memiliki pengaruh terhadap masa depan. Karena itu, mengenal diri dan menentukan arah menjadi sesuatu yang penting. Pada akhirnya, pertanyaan “WHO ARE YOU?” bukan pertanyaan yang harus dijawab hanya dengan menyebut nama atau sekolah. Ia adalah pertanyaan yang mengajak seseorang melihat lebih jauh ke dalam dirinya. Kenal Allah untuk mengetahui kepada siapa hidup dipertanggungjawabkan. Kenal Rasul untuk menemukan teladan dalam perjalanan. Dan kenal arah hidup agar setiap langkah memiliki tujuan. Dari Aula SMA Negeri 2 Kota Pariaman, pesan itu dibawa pulang oleh para peserta RADAR. Bahwa masa muda bukan hanya tentang mencari tahu ingin menjadi siapa, tetapi juga tentang menemukan untuk apa kita hidup dan ke mana kehidupan akan diarahkan.
Tak Sekadar Cek Bangunan, Muhajir Muslim Berdialog dengan Warga Saat Monitoring Pokir di Marunggi

PARIAMAN — Monitoring pembangunan bagi seorang wakil rakyat tidak selalu harus berlangsung di ruang rapat dengan tumpukan dokumen. Senin (28/9/2026), Ketua DPRD Kota Pariaman Muhajir Muslim, Lc., memilih turun langsung ke tengah masyarakat untuk melihat perkembangan pembangunan Pos Keamanan Lingkungan (Poskamling) di Desa Marunggi, Kecamatan Pariaman Selatan. Poskamling tersebut merupakan salah satu realisasi pokok-pokok pikiran (pokir) Ketua DPRD Kota Pariaman melalui anggaran tahun 2026. Dalam kunjungan monitoring tersebut, Muhajir didampingi langsung oleh Kepala Desa Marunggi, Syaiful Bahri. Keduanya melihat kondisi pembangunan sekaligus berdialog dengan masyarakat dan para pekerja yang sedang menyelesaikan pembangunan Poskamling. Kehadiran Muhajir tidak berlangsung dalam suasana formal. Sesekali ia berbincang dengan pekerja, menanyakan proses pembangunan, kondisi pekerjaan, hingga kebutuhan yang diperlukan agar pembangunan dapat berjalan dengan baik. Melihat Langsung Progres di Lapangan Turun langsung ke lokasi menjadi kesempatan bagi Muhajir untuk melihat sejauh mana realisasi pembangunan yang telah berjalan. Baginya, monitoring tidak cukup hanya dilakukan melalui laporan administrasi. Melihat langsung kondisi di lapangan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai proses pekerjaan, termasuk hal-hal yang mungkin tidak terlihat dari laporan tertulis. Muhajir melihat bagian-bagian bangunan yang sedang dikerjakan dan berdiskusi dengan pihak yang terlibat dalam pembangunan. Ia juga memastikan agar pembangunan dilaksanakan dengan baik dan dapat memberikan manfaat sesuai kebutuhan masyarakat. Poskamling tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu fasilitas pendukung keamanan lingkungan sekaligus ruang interaksi masyarakat. Keberadaan fasilitas semacam ini memiliki fungsi yang cukup dekat dengan kehidupan warga. Di satu sisi menjadi tempat masyarakat menjalankan kegiatan ronda dan menjaga keamanan lingkungan. Di sisi lain, poskamling juga dapat menjadi ruang berkumpul warga dalam suasana yang lebih santai. Berdialog dengan Pekerja Ada pemandangan yang cukup menarik selama monitoring berlangsung. Alih-alih hanya melihat bangunan dari kejauhan, Muhajir mendekati para pekerja yang sedang melakukan aktivitas pembangunan. Percakapan berlangsung sederhana. Ia menanyakan bagaimana proses pekerjaan berjalan, bagian mana yang sedang dikerjakan, hingga kendala yang mungkin ditemui selama pembangunan. Bagi para pekerja, perhatian tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap pekerjaan yang sedang mereka lakukan. Sementara bagi Muhajir, percakapan dengan pekerja dapat memberikan informasi langsung mengenai kondisi pembangunan. Tidak ada jarak yang terlalu formal. Suasana monitoring pun berlangsung seperti percakapan sehari-hari antara warga dan wakilnya. Mendengar Suara Masyarakat Setelah melihat pembangunan, Muhajir juga menyempatkan diri berinteraksi dengan masyarakat Desa Marunggi. Ia mendengarkan berbagai cerita dan kebutuhan yang disampaikan warga. Momen seperti ini menjadi bagian penting dari kegiatan monitoring. Sebab, pokir pada dasarnya berasal dari kebutuhan masyarakat yang disampaikan melalui proses penyerapan aspirasi. Karena itu, ketika program tersebut direalisasikan, komunikasi dengan masyarakat tetap diperlukan. Muhajir mengatakan bahwa pembangunan tidak boleh hanya dilihat dari bentuk fisiknya. Yang lebih penting adalah apakah hasil pembangunan tersebut benar-benar dibutuhkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. “Kita ingin setiap pembangunan yang direalisasikan benar-benar memberikan manfaat. Karena itu, kita perlu turun melihat langsung, bukan hanya melihat laporan. Sekaligus kita bisa mendengar langsung dari masyarakat apa yang mereka rasakan dan apa yang masih dibutuhkan,” ujar Muhajir. Poskamling dan Semangat Gotong Royong Bagi masyarakat Desa Marunggi, keberadaan Poskamling memiliki arti tersendiri. Keamanan lingkungan bukan hanya tanggung jawab aparat. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan tempat tinggalnya. Kegiatan ronda, saling mengenal antarwarga, serta kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari sistem keamanan berbasis masyarakat. Karena itu, pembangunan Poskamling diharapkan dapat kembali menghidupkan semangat tersebut. Bangunan fisik hanyalah fasilitas. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana fasilitas tersebut digunakan dan dirawat bersama. Muhajir juga mendorong masyarakat agar menjaga hasil pembangunan yang telah direalisasikan. Dengan adanya rasa memiliki, fasilitas tersebut diharapkan dapat digunakan dalam jangka panjang. Monitoring yang Lebih Dekat Kegiatan di Desa Marunggi menunjukkan bahwa monitoring program pembangunan dapat dilakukan dengan cara yang sederhana. Tidak harus selalu melalui forum resmi. Turun ke lapangan, berbincang dengan pekerja, menyapa warga, dan melihat kondisi pembangunan secara langsung justru dapat membuka ruang komunikasi yang lebih natural. Bagi seorang wakil rakyat, cara seperti ini juga memberikan kesempatan untuk memahami kondisi masyarakat secara lebih dekat. Di sela-sela melihat bangunan, ada cerita warga yang didengar. Di antara percakapan dengan pekerja, ada informasi mengenai proses pembangunan yang diperoleh. Hal-hal sederhana tersebut menjadi bagian dari proses memastikan bahwa program yang direalisasikan tidak berhenti pada laporan administratif. Dari Marunggi untuk Masyarakat Monitoring realisasi pokir di Desa Marunggi akhirnya bukan hanya tentang melihat perkembangan sebuah Poskamling. Ada interaksi yang terbangun antara wakil rakyat, pemerintah desa, pekerja dan masyarakat. Ada pula pesan bahwa pembangunan akan memiliki arti ketika masyarakat merasa ikut memiliki. Muhajir berharap pembangunan Poskamling tersebut dapat selesai dengan baik dan kemudian dimanfaatkan sebagaimana mestinya. “Mudah-mudahan fasilitas ini bisa bermanfaat untuk masyarakat dan dirawat bersama. Yang kita bangun bukan hanya bangunannya, tetapi juga semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan,” katanya. Senin itu, pembangunan sebuah Poskamling menjadi titik pertemuan berbagai kepentingan: program pemerintah, aspirasi masyarakat, kerja para pekerja, dan tanggung jawab wakil rakyat. Dari Desa Marunggi, satu hal terlihat jelas—monitoring pembangunan tidak harus selalu kaku. Kadang, kualitas sebuah program justru lebih mudah dipahami ketika wakil rakyat turun langsung, duduk bersama warga, dan mendengarkan cerita mereka.
Muhajir Muslim Ajak Ibu Hadirkan Sosok Ayah di Hati Anak

PARIAMAN — Ada satu hal yang sering luput dalam pembicaraan tentang pendidikan anak: bukan hanya soal bagaimana ibu mendidik, tetapi juga bagaimana seorang ibu membantu menghadirkan sosok ayah dalam kehidupan anak. Pesan tersebut menjadi benang merah materi yang disampaikan Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., saat menjadi pemateri dalam kegiatan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kecamatan Pariaman Selatan di Musholla Ar-Raudhah, Padang Cakur, Minggu (27/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Padang Cakur Ramadhani dan Kepala KUA Kecamatan Pariaman Selatan Aldi Arman, S.H.I., serta jamaah BKMT Kecamatan Pariaman Selatan. Mengangkat tema “Ibu, Hadirkan Ayah di Hati Anak”, Muhajir mengajak jamaah melihat kembali dinamika keluarga di tengah kehidupan yang semakin sibuk. Suasana kegiatan berlangsung sederhana dan penuh keakraban. Jamaah mengikuti materi sambil menyimak berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan keluarga sehari-hari. Ketika Ayah Ada, tetapi Tidak Hadir Memulai materinya, Muhajir mengajak jamaah membedakan antara keberadaan seorang ayah di rumah dengan kehadiran seorang ayah dalam kehidupan anak. Seorang ayah bisa saja berada dalam satu rumah setiap hari. Namun, kesibukan pekerjaan, penggunaan gawai, maupun minimnya komunikasi dapat membuat hubungan emosional antara ayah dan anak menjadi semakin jauh. Di sinilah peran ibu menjadi penting. Bukan untuk menggantikan peran ayah, tetapi membantu membangun jembatan antara ayah dan anak. Menurut Muhajir, seorang ibu dapat membantu anak mengenali sisi positif ayahnya, mengajak anak menghargai usaha ayah, serta menciptakan kesempatan agar keduanya memiliki waktu bersama. “Kadang ayah ada di rumah, tetapi belum tentu hadir di hati anak. Begitu juga sebaliknya, anak ada di rumah, tetapi belum tentu ayah benar-benar mengenal apa yang sedang dirasakan anak,” pesan Muhajir kepada jamaah. Menurutnya, kedekatan tersebut tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan besar. Bisa dimulai dari hal sederhana: makan bersama, berbicara sebelum tidur, mengantar anak sekolah, mendengarkan cerita anak, atau sekadar bertanya bagaimana hari yang telah mereka jalani. Ibu Bukan Pengganti Ayah Muhajir menekankan bahwa materi tersebut bukan bermaksud memberikan beban tambahan kepada ibu. Justru, ia ingin mengingatkan bahwa membangun keluarga merupakan tanggung jawab bersama. Ibu memiliki peran penting dalam mendampingi anak, tetapi ayah juga memiliki tanggung jawab yang tidak dapat digantikan. Dalam keluarga, anak membutuhkan sosok yang memberikan kasih sayang, perlindungan, keteladanan sekaligus arahan. Karena itu, ayah tidak cukup hanya hadir sebagai pencari nafkah. Peran tersebut memang penting, tetapi kebutuhan anak jauh lebih luas. Anak juga membutuhkan seseorang yang mendengarkan cerita mereka, mengetahui kegelisahan mereka, memberikan apresiasi ketika mereka berhasil, serta menjadi tempat ketika mereka mengalami kegagalan. Muhajir mengajak para ibu yang hadir untuk tidak secara tidak sengaja membuat hubungan ayah dan anak menjadi semakin jauh. Sebaliknya, ibu dapat menjadi penghubung yang memperkuat hubungan tersebut. Jangan Membuat Anak Hanya Mengenal Ayah dari Nasihat Ibu Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang anak lebih banyak berinteraksi dengan ibu. Akibatnya, berbagai kebutuhan anak, mulai dari sekolah, makanan, kesehatan hingga persoalan pergaulan, lebih sering ditangani ibu. Kondisi tersebut bisa membuat anak memiliki kedekatan emosional yang lebih kuat dengan ibu dibandingkan ayah. Namun, menurut Muhajir, kondisi itu tidak seharusnya membuat ayah kehilangan tempat dalam kehidupan anak. Ibu dapat mendorong anak untuk berinteraksi dengan ayah. Ketika anak memiliki masalah, misalnya, tidak selalu harus ibu yang memberikan solusi. Ada saatnya anak diarahkan untuk berdiskusi dengan ayah. Begitu pula ketika anak memiliki prestasi. Ayah perlu diberi ruang untuk memberikan apresiasi. Dengan demikian, anak memahami bahwa kedua orang tuanya memiliki tempat dan peran masing-masing. Ayah Juga Harus Mau Berubah Di sisi lain, Muhajir mengingatkan bahwa membangun kedekatan antara ayah dan anak bukan hanya pekerjaan ibu. Para ayah juga harus bersedia membuka diri. Kesibukan mencari nafkah jangan sampai menjadi alasan untuk kehilangan waktu bersama keluarga. Menurutnya, waktu bersama anak merupakan investasi yang tidak dapat digantikan dengan materi. Anak mungkin tidak selalu mengingat berapa banyak uang yang diberikan orang tua. Namun, mereka cenderung mengingat pengalaman ketika orang tua hadir dalam momen penting kehidupannya. Ketika mendapatkan nilai bagus. Ketika mengikuti perlombaan. Ketika sedang sakit. Ketika mengalami kegagalan. Bahkan ketika hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan cerita sederhana. Pada momen-momen seperti itulah kehadiran ayah memiliki arti. Tantangan Keluarga di Era Digital Pembahasan semakin relevan ketika dikaitkan dengan perkembangan teknologi. Anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi orang tua mereka. Telepon pintar dan media sosial membuat anak memiliki dunia sendiri yang terkadang sulit dipahami orang tua. Dalam kondisi seperti ini, komunikasi keluarga menjadi semakin penting. Orang tua tidak cukup hanya melarang atau mengawasi penggunaan gawai. Mereka juga harus memahami dunia anak. Ayah dan ibu perlu mengetahui apa yang ditonton anak, siapa yang menjadi teman mereka di dunia digital, serta persoalan apa yang sedang mereka hadapi. Menurut Muhajir, komunikasi yang terbuka akan membuat anak lebih mudah bercerita dan meminta bantuan ketika menghadapi persoalan. Peran BKMT Memperkuat Keluarga Kegiatan BKMT Kecamatan Pariaman Selatan di Musholla Ar-Raudhah juga menjadi ruang untuk memperkuat peran perempuan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Muhajir berharap majelis taklim tidak hanya menjadi tempat mendapatkan pengetahuan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang bertukar pengalaman mengenai persoalan kehidupan sehari-hari. Tema keluarga, pendidikan anak, komunikasi orang tua dan perkembangan generasi muda merupakan persoalan yang dekat dengan kehidupan jamaah. Karena itu, pembahasan tersebut dapat menjadi bekal yang dibawa pulang dan diterapkan di rumah masing-masing. Kehadiran Kepala Desa Padang Cakur Ramadhani dan Kepala KUA Kecamatan Pariaman Selatan Aldi Arman, S.H.I., turut memperlihatkan dukungan terhadap kegiatan pembinaan keagamaan masyarakat. Pesan yang Dibawa Pulang Di akhir materi, Muhajir kembali mengajak jamaah melihat keluarga sebagai tempat pertama seorang anak belajar tentang kehidupan. Ayah dan ibu memiliki peran berbeda, tetapi keduanya saling melengkapi. Ibu dapat membantu anak mengenal sosok ayah dengan lebih dekat. Sementara ayah harus berusaha hadir dan membangun hubungan emosional dengan anak. Sebab, menghadirkan ayah di hati anak bukan sekadar membuat anak menghormati orang tua. Lebih dari itu, anak membutuhkan sosok ayah sebagai teladan, tempat bertanya dan sumber rasa aman. Kegiatan BKMT di Musholla Ar-Raudhah pun menjadi ruang sederhana untuk membicarakan persoalan yang sebenarnya sangat dekat dengan setiap keluarga. Dari sebuah majelis taklim di Padang Cakur, Muhajir mengingatkan satu hal yang mungkin sering terlupakan: Anak tidak hanya membutuhkan ayah yang bekerja untuknya. Anak juga membutuhkan ayah yang hadir untuknya. Dan untuk menghadirkan sosok itu di hati anak, terkadang langkah pertama
Ketua DPRD Dukung Penuh Kontingen Kota Pariaman di Porprov XVI Sumbar 2026

PARIAMAN — Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., menyampaikan dukungan penuh terhadap keikutsertaan kontingen Kota Pariaman pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat Tahun 2026. Kepastian keikutsertaan Kota Pariaman menjadi kabar baik bagi para atlet, pelatih, pengurus cabang olahraga, serta masyarakat yang selama ini menantikan Kota Pariaman dapat ambil bagian dalam pesta olahraga terbesar tingkat Provinsi Sumatera Barat tersebut. Muhajir mengatakan, perhatian utama sejak awal adalah memastikan perjuangan dan persiapan yang telah dilakukan para atlet serta pelatih tidak menjadi sia-sia. “Alhamdulillah, yang paling penting bagi kita adalah atlet Kota Pariaman mendapatkan kesempatan untuk bertanding. Para atlet sudah berlatih dan mempersiapkan diri jauh-jauh hari, pelatih telah bekerja, dan pengurus cabang olahraga juga telah berjuang mempersiapkan atlet terbaiknya. Kesempatan untuk membawa nama Kota Pariaman pada Porprov harus kita dukung bersama,” ujar Muhajir. Menurutnya, setelah keikutsertaan kontingen dapat dipastikan, saatnya seluruh pihak mengarahkan energi pada satu tujuan, yakni memberikan dukungan terbaik kepada kontingen Kota Pariaman. Ia mengajak Pemerintah Kota Pariaman, KONI Kota Pariaman, DPRD, pengurus cabang olahraga, pelatih dan seluruh elemen masyarakat untuk membangun kebersamaan dalam menyukseskan keikutsertaan Kota Pariaman. “Sekarang saatnya kita satukan energi. Pemerintah Kota, KONI, DPRD, pengurus cabor dan seluruh masyarakat harus berada dalam semangat yang sama: mendukung kontingen Kota Pariaman agar dapat bertanding dengan baik dan memberikan prestasi terbaik bagi daerah,” katanya. Muhajir juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Pariaman dan KONI Kota Pariaman dalam menyelesaikan proses yang diperlukan untuk keikutsertaan kontingen. DPRD Kota Pariaman, lanjutnya, sejak awal juga memberikan perhatian terhadap keikutsertaan Kota Pariaman pada Porprov. Salah satunya melalui upaya mempercepat pembahasan dan pengesahan APBD Perubahan agar berbagai kebutuhan daerah yang mendesak dapat segera ditindaklanjuti. “Dari sisi DPRD, kita sudah berupaya menjalankan fungsi dan kewenangan yang ada, termasuk mempercepat proses APBD Perubahan. Tujuannya agar berbagai kebutuhan yang menjadi kepentingan masyarakat dan daerah dapat segera berjalan, termasuk dukungan terhadap keikutsertaan Kota Pariaman pada Porprov,” ujarnya. Saat ini, menurut Muhajir, perhatian selanjutnya perlu diarahkan pada kesiapan kontingen secara menyeluruh, mulai dari kebutuhan atlet dan pelatih, administrasi, perlengkapan, transportasi, akomodasi hingga kesiapan masing-masing cabang olahraga. “Jangan sampai setelah terdaftar masih ada kebutuhan mendasar atlet dan pelatih yang tertinggal. Setelah kepastian keikutsertaan ini, mari kita pastikan kontingen Kota Pariaman benar-benar siap untuk bertanding,” katanya. Muhajir berharap seluruh atlet dapat menjalani pertandingan dengan penuh semangat, menjunjung tinggi sportivitas serta memberikan kemampuan terbaik untuk mengharumkan nama Kota Pariaman. “Selamat berjuang kepada seluruh atlet, pelatih dan ofisial Kota Pariaman. Masyarakat Kota Pariaman tentu berharap dan mendoakan agar kontingen kita diberikan kelancaran, kesehatan dan mampu menorehkan prestasi terbaik. Insyaallah, kita dukung dan perjuangkan bersama,” tutup Muhajir.
Muhajir Muslim Buka Ruang Kolaborasi dengan PDNA Pariaman, Dorong Pemuda Aktif Bangun Daerah

PARIAMAN — Ruang kolaborasi antara lembaga legislatif dan organisasi kepemudaan dinilai penting untuk memperkuat pembangunan Kota Pariaman. Semangat tersebut mengemuka ketika Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., menerima silaturahmi dan kunjungan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Pariaman, pada Rabu, 23 September 2026. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan tersebut menjadi ruang bertukar gagasan mengenai peran generasi muda dalam pembangunan daerah. Muhajir menyambut baik kehadiran jajaran PDNA Kota Pariaman. Ia menilai organisasi kepemudaan memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan masyarakat dan memiliki kemampuan untuk menggerakkan anak-anak muda melalui berbagai kegiatan sosial, pendidikan, keagamaan, maupun pemberdayaan. Bagi Muhajir, pemerintah dan lembaga legislatif tidak mungkin bekerja sendiri dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat. Dibutuhkan keterlibatan berbagai elemen, termasuk organisasi kepemudaan. “Kami sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan organisasi-organisasi kepemudaan. Pemerintah dan DPRD tidak bisa berjalan sendiri. Banyak potensi yang dimiliki organisasi pemuda yang bisa kita sinergikan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Muhajir. Pemuda Bukan Sekadar Pelengkap Menurut Muhajir, generasi muda tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai penerima program pembangunan. Pemuda harus menjadi bagian dari proses tersebut. Organisasi seperti PDNA, menurutnya, memiliki pengalaman dan jaringan yang dapat menjadi kekuatan dalam mengembangkan berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Kehadiran organisasi kepemudaan juga menjadi penting di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat. Generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda. Perkembangan teknologi digital, perubahan pola komunikasi, persoalan pendidikan, lapangan pekerjaan, ekonomi kreatif hingga tantangan sosial membutuhkan respons yang lebih adaptif. Dalam kondisi tersebut, organisasi kepemudaan dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk belajar sekaligus mengambil peran. Muhajir menilai, semakin banyak organisasi yang membangun kolaborasi, semakin besar pula peluang lahirnya program yang berdampak. Karena itu, silaturahmi dengan PDNA tidak hanya dilihat sebagai agenda kunjungan organisasi, tetapi juga sebagai kesempatan membuka pintu komunikasi untuk kerja sama ke depan. Membuka Ruang untuk Gagasan Anak Muda Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut adalah pentingnya memberikan ruang kepada organisasi kepemudaan untuk menyampaikan gagasan. Menurut Muhajir, terkadang masyarakat memiliki ide dan solusi terhadap persoalan di lingkungannya, tetapi membutuhkan ruang untuk menyampaikan dan mengembangkan gagasan tersebut. Lembaga legislatif, kata dia, dapat menjadi salah satu ruang komunikasi bagi masyarakat dan organisasi kepemudaan. “Yang paling penting adalah komunikasi. Kalau ada gagasan yang baik, mari kita bicarakan. Tidak semua harus langsung menjadi program besar. Kita bisa mulai dari hal-hal yang sederhana, kemudian dikembangkan bersama,” katanya. Pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi tidak harus selalu dimulai dari program dengan anggaran besar. Kerja sama dapat diawali dari pertukaran gagasan, kegiatan sosial, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, kampanye kepemudaan hingga kegiatan yang mendorong peningkatan kapasitas generasi muda. PDNA dan Potensi Perempuan Muda Kehadiran PDNA Kota Pariaman juga memiliki arti tersendiri karena organisasi tersebut menjadi salah satu wadah pengembangan perempuan muda. Perempuan muda memiliki peran penting dalam pembangunan masyarakat. Tidak hanya dalam ruang keluarga, tetapi juga dalam pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, kepemimpinan dan berbagai sektor kehidupan lainnya. Karena itu, organisasi perempuan muda seperti PDNA memiliki potensi besar untuk menjadi mitra dalam berbagai program pemberdayaan. Keterlibatan perempuan muda dalam pembangunan juga menjadi bagian dari upaya memastikan pembangunan berlangsung secara inklusif. Gagasan, pengalaman dan perspektif perempuan perlu mendapatkan ruang dalam proses pembangunan daerah. Muhajir menyambut baik potensi tersebut dan membuka peluang bagi PDNA Kota Pariaman untuk membangun komunikasi lebih lanjut dengan DPRD. Dari Silaturahmi Menuju Kolaborasi Silaturahmi antara Ketua DPRD Kota Pariaman dengan PDNA Kota Pariaman pada akhirnya tidak berhenti pada pertemuan formal. Ada peluang yang lebih besar untuk membangun kerja sama yang konkret. Mulai dari program peningkatan kapasitas pemuda, pendidikan, kegiatan sosial, pemberdayaan perempuan muda, literasi digital, penguatan ekonomi kreatif hingga kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Bagi Muhajir, setiap organisasi memiliki kekuatan masing-masing. Karena itu, pendekatan yang dibutuhkan bukanlah menyeragamkan gerakan, melainkan mempertemukan berbagai kekuatan tersebut dalam agenda yang memberikan manfaat bagi masyarakat. “Setiap organisasi tentu memiliki karakter, pengalaman dan jaringan masing-masing. Justru itu yang menjadi kekuatan. Kita tidak perlu berjalan sendiri-sendiri. Kalau ada ruang yang bisa kita kerjakan bersama, tentu sangat terbuka untuk kita kolaborasikan,” ungkapnya. Semangat tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan pembangunan yang semakin kompleks. Pemerintah memiliki keterbatasan. DPRD memiliki fungsi dan kewenangan yang berbeda. Sementara organisasi masyarakat dan kepemudaan memiliki jaringan sosial yang kuat. Jika kekuatan tersebut dipertemukan, berbagai persoalan di tingkat masyarakat dapat ditangani dengan pendekatan yang lebih partisipatif. Membangun Pariaman dari Banyak Arah Bagi Kota Pariaman, keberadaan organisasi kepemudaan merupakan aset sosial yang tidak boleh diabaikan. Pemuda adalah kelompok yang memiliki energi, kreativitas dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Namun energi tersebut membutuhkan ruang agar dapat diarahkan menjadi kegiatan produktif. Karena itu, hubungan yang terbuka antara DPRD dengan organisasi kepemudaan menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem kepemudaan di daerah. Pertemuan dengan PDNA Kota Pariaman menjadi salah satu contoh bagaimana ruang tersebut dapat dibangun. Tidak harus selalu melalui forum resmi atau rapat pemerintahan. Terkadang, pembangunan kolaborasi justru bermula dari sebuah kunjungan, secangkir kopi, percakapan sederhana dan kesediaan untuk saling mendengar. Muhajir berharap komunikasi dengan PDNA dan organisasi kepemudaan lainnya dapat terus terjalin. Menurutnya, semakin banyak anak muda yang terlibat dalam kegiatan positif, semakin kuat pula modal sosial Kota Pariaman. “Kita berharap organisasi kepemudaan terus bergerak, terus melahirkan gagasan dan memberikan manfaat. DPRD tentu siap menjadi bagian dari ruang komunikasi dan kolaborasi tersebut sesuai dengan fungsi dan kewenangan yang dimiliki,” tuturnya. Silaturahmi PDNA Kota Pariaman dengan Ketua DPRD pun menjadi lebih dari sekadar kunjungan organisasi. Ia menjadi penanda bahwa pembangunan daerah membutuhkan banyak tangan dan banyak gagasan. DPRD memiliki ruangnya. Pemerintah memiliki perannya. Organisasi kepemudaan memiliki energinya. Masyarakat memiliki kekuatannya. Ketika semuanya dipertemukan dalam semangat kolaborasi, pembangunan Kota Pariaman tidak lagi berjalan dari satu arah. Ia tumbuh dari banyak arah—dengan pemuda sebagai salah satu kekuatan pentingnya.
Setahun Muhajir Muslim Memimpin DPRD Pariaman: Dari Memetakan Bakat Siswa hingga Membenahi Sekolah

PARIAMAN — Memimpin lembaga legislatif tidak selalu harus dimulai dari gedung parlemen. Bagi Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., tahun pertama masa jabatannya justru banyak diwarnai dengan aktivitas yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan dan kebutuhan masyarakat. Sepanjang tahun 2025, sejumlah program dan perhatian Muhajir Muslim menyasar sektor pendidikan. Mulai dari membantu memetakan minat dan bakat siswa, memperjuangkan akses jalan menuju madrasah yang selama bertahun-tahun kurang mendapat perhatian, hingga membenahi fasilitas sekolah yang kondisinya membutuhkan perbaikan. Empat kiprah tersebut menjadi bagian dari catatan tahun pertama Muhajir Muslim sebagai Ketua DPRD Kota Pariaman. Jika ditarik benang merah, semuanya bermuara pada satu hal: membangun manusia tidak cukup hanya dengan berbicara tentang pendidikan, tetapi juga memastikan anak-anak belajar di lingkungan yang layak dan memiliki ruang untuk mengembangkan potensi dirinya. Memulai dari Potensi Anak Muda Kiprah pertama Muhajir Muslim pada tahun pertama kepemimpinannya adalah melaksanakan pemetaan minat dan bakat siswa SMP sederajat di Kecamatan Pariaman Timur dan Pariaman Selatan. Kegiatan tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Pariaman. Gagasan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Ada siswa yang memiliki kemampuan akademik kuat. Ada yang menonjol dalam olahraga. Ada yang memiliki bakat seni, kepemimpinan, teknologi, maupun bidang lainnya. Persoalannya, potensi tersebut tidak selalu teridentifikasi sejak awal. Melalui pemetaan minat dan bakat, siswa diharapkan dapat mengenali kecenderungan kemampuan dirinya sekaligus memperoleh arah pengembangan yang lebih sesuai. Bagi Muhajir, pendidikan tidak seharusnya menggunakan pendekatan yang seragam kepada semua anak. Setiap anak memiliki karakter dan keunggulan masing-masing. Karena itu, pemetaan menjadi penting agar sekolah, orang tua dan pemerintah memiliki gambaran yang lebih baik mengenai potensi generasi muda. Langkah ini juga memperlihatkan bahwa perhatian terhadap pendidikan tidak hanya berbicara mengenai pembangunan gedung sekolah. Membangun pendidikan berarti membangun manusianya. Belasan Tahun Menunggu Jalan yang Layak Kiprah berikutnya bergerak dari ruang kelas menuju akses pendidikan. Jalan menuju MAN Kota Pariaman menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian Muhajir Muslim. Selama belasan tahun, akses menuju madrasah tersebut dinilai belum mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah. Kondisi jalan bukan sekadar persoalan infrastruktur. Bagi warga sekolah, akses jalan merupakan bagian dari penunjang aktivitas pendidikan sehari-hari. Setiap hari guru, siswa, tenaga kependidikan dan masyarakat harus melewati akses tersebut. Karena itu, pengaspalan jalan menuju MAN Kota Pariaman menjadi salah satu perhatian penting Muhajir pada tahun pertama menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Pariaman. Perbaikan tersebut memberikan perubahan nyata terhadap akses menuju lingkungan pendidikan. Bagi siswa, jalan yang lebih layak berarti perjalanan menuju sekolah menjadi lebih nyaman. Bagi guru dan masyarakat, akses yang baik juga mendukung mobilitas dan aktivitas di sekitar madrasah. Persoalan yang selama bertahun-tahun menunggu akhirnya mulai mendapatkan jalan keluar. Atap Sekolah yang Kembali Aman Perhatian Muhajir terhadap dunia pendidikan kemudian berlanjut ke SMP Negeri 6 Pariaman. Kondisi atap sekolah yang membutuhkan perbaikan menjadi persoalan yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Atap sekolah bukan sekadar bagian dari bangunan. Ia menyangkut keamanan dan kenyamanan siswa serta guru ketika proses belajar mengajar berlangsung. Karena itu, perbaikan atau rehabilitasi atap SMP Negeri 6 Pariaman menjadi bagian dari kiprah Muhajir dalam memperhatikan fasilitas pendidikan. Sekolah yang layak bukan hanya tentang ruang kelas yang tersedia, tetapi juga mengenai apakah bangunan tersebut aman digunakan. Bagi siswa, rasa aman merupakan bagian penting dari proses belajar. Mereka datang ke sekolah untuk memperoleh ilmu, bukan untuk menghadapi kekhawatiran terhadap kondisi bangunan yang mereka tempati. Rehabilitasi tersebut menjadi salah satu contoh bahwa persoalan pendidikan sering kali membutuhkan perhatian pada hal-hal yang terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap aktivitas sehari-hari. Merehab SDN 04 Batang Tajongkek Kiprah keempat berlanjut ke SD Negeri 04 Batang Tajongkek, Kota Pariaman. Sekolah dasar merupakan fondasi awal pendidikan anak. Di tempat inilah anak-anak mulai membangun kemampuan membaca, berhitung, bersosialisasi dan mengenal berbagai pengetahuan. Karena itu, kondisi lingkungan sekolah memiliki pengaruh terhadap proses pendidikan. Melalui rehabilitasi SDN 04 Batang Tajongkek, perhatian kembali diarahkan pada pembenahan fasilitas pendidikan di tingkat dasar. Bagi masyarakat sekitar, perbaikan sekolah bukan hanya memperbaiki sebuah bangunan. Ia merupakan investasi untuk anak-anak mereka. Sekolah yang lebih baik memberikan lingkungan belajar yang lebih nyaman sekaligus menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan di wilayah tersebut mendapatkan perhatian. Empat Kiprah, Satu Benang Merah Jika empat kiprah tersebut dilihat secara terpisah, semuanya tampak seperti kegiatan yang berbeda. Pemetaan minat dan bakat berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia. Pengaspalan jalan menuju MAN Kota Pariaman berkaitan dengan infrastruktur. Rehabilitasi atap SMP Negeri 6 Pariaman berkaitan dengan keamanan fasilitas sekolah. Sementara rehabilitasi SD Negeri 04 Batang Tajongkek berkaitan dengan peningkatan kualitas lingkungan pendidikan. Namun jika disatukan, terdapat satu benang merah yang kuat: pendidikan. Muhajir Muslim menjadikan sektor pendidikan sebagai salah satu perhatian dalam tahun pertamanya memimpin DPRD Kota Pariaman. Pendekatan yang dilakukan pun tidak hanya menyentuh satu sisi. Ada perhatian terhadap anaknya, melalui pemetaan minat dan bakat. Ada perhatian terhadap aksesnya, melalui pengaspalan jalan menuju madrasah. Ada perhatian terhadap keamanan bangunannya, melalui rehabilitasi atap SMP Negeri 6. Dan ada perhatian terhadap lingkungan belajarnya, melalui rehabilitasi SD Negeri 04 Batang Tajongkek. Empat langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan memang membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Tahun Pertama yang Berorientasi pada Pendidikan Menjadi Ketua DPRD bukan sekadar posisi administratif. Ada tanggung jawab representasi yang mengharuskan seorang wakil rakyat mendengar kebutuhan masyarakat dan memperjuangkannya dalam ruang kebijakan. Tahun pertama Muhajir Muslim menjadi Ketua DPRD Kota Pariaman menunjukkan salah satu fokus tersebut. Dari siswa SMP di Pariaman Timur dan Pariaman Selatan, hingga siswa MAN Kota Pariaman, SMP Negeri 6 Pariaman dan SD Negeri 04 Batang Tajongkek, perhatian terhadap pendidikan hadir dalam bentuk yang berbeda. Ada pekerjaan yang menyentuh masa depan anak melalui pemetaan potensi. Ada pula pekerjaan yang menyentuh kebutuhan hari ini melalui perbaikan infrastruktur. Semua bermuara pada harapan yang sama: agar anak-anak Kota Pariaman memperoleh kesempatan belajar dalam kondisi yang lebih baik dan mampu mengembangkan potensi mereka secara maksimal. Sebab, membangun sebuah kota tidak hanya berarti membangun jalan dan gedung. Ada manusia yang harus dipersiapkan. Dan sekolah adalah salah satu tempat paling penting untuk mempersiapkan manusia itu. Setahun pertama Muhajir Muslim sebagai Ketua DPRD Kota Pariaman pun meninggalkan sebuah catatan: bahwa keberpihakan terhadap pendidikan dapat dimulai dari dua arah sekaligus—membangun kualitas manusianya dan
Dari Gedung DPRD ke Kampus, Muhajir Muslim Ajak Aktivis FSLDK Jadi Generasi yang Berani Berdakwah dan Memimpin

BUKITTINGGI — Masa depan umat dan bangsa tidak cukup hanya menunggu lahirnya pemimpin baru. Ia harus dipersiapkan sejak hari ini, terutama dari kalangan pemuda yang memiliki ilmu, keberanian, integritas, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Pesan itu mengemuka dalam Talkshow Kepemudaan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Sumatera Barat pada Sabtu, 5 September 2026 yang digelar di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., hadir sebagai salah satu narasumber dan berbagi pengalaman serta pandangannya mengenai kepemudaan, dakwah, kepemimpinan, dan kontribusi generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat. Di hadapan para mahasiswa dan aktivis lembaga dakwah kampus dari berbagai daerah di Sumatera Barat, Muhajir membawa satu pesan penting: pemuda jangan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi harus menjadi bagian dari orang-orang yang menciptakan perubahan. Bagi Muhajir, kampus bukan sekadar tempat menuntut ilmu untuk memperoleh gelar akademik. Kampus juga merupakan ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, kemampuan berpikir kritis, sekaligus tempat mahasiswa belajar membaca persoalan masyarakat. Karena itu, aktivitas organisasi dan dakwah kampus menurutnya harus mampu melahirkan mahasiswa yang tidak hanya aktif secara internal, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan umat dan bangsa. Dari Aktivis Kampus ke Ruang Pengabdian Kehadiran Muhajir dalam forum FSLDK menjadi menarik karena perjalanan seorang aktivis muda menuju ruang kepemimpinan publik tidak pernah berlangsung dalam satu malam. Ada proses panjang yang melibatkan pendidikan, organisasi, pengalaman lapangan, interaksi dengan masyarakat, serta keberanian mengambil tanggung jawab. Sebagai Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir kini berada dalam ruang politik dan pemerintahan yang menuntut kemampuan mengambil keputusan sekaligus membaca aspirasi masyarakat. Namun, ruang tersebut tidak seharusnya membuat seorang pemimpin kehilangan akar sosialnya. Dalam talkshow tersebut, ia mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan masa muda sebagai fase membangun kapasitas. Menurutnya, aktivis dakwah kampus memiliki modal yang besar karena terbiasa dengan kegiatan organisasi, pembinaan keislaman, diskusi, dan kerja-kerja sosial. Modal tersebut harus dikembangkan menjadi kemampuan yang lebih luas. Mulai dari kemampuan komunikasi, kepemimpinan, manajemen organisasi, literasi digital, hingga kemampuan memahami dinamika sosial dan politik. Sebab, tantangan generasi muda hari ini jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Perubahan teknologi yang begitu cepat membuat informasi bergerak dalam hitungan detik. Media sosial membentuk opini publik. Algoritma menentukan informasi yang dikonsumsi masyarakat. Sementara berbagai persoalan sosial membutuhkan generasi yang mampu berpikir jernih sekaligus bertindak cepat. Dalam kondisi tersebut, aktivis dakwah kampus tidak cukup hanya mampu menyampaikan pesan agama. Mereka juga harus mampu mengomunikasikan nilai-nilai Islam dalam bahasa yang relevan dengan kehidupan generasi muda. Dakwah Tidak Boleh Kehilangan Relevansi Salah satu tantangan besar lembaga dakwah kampus adalah bagaimana membuat dakwah tetap dekat dengan kehidupan mahasiswa. Generasi muda hari ini hidup dalam ekosistem digital. Mereka mendapatkan informasi melalui TikTok, Instagram, YouTube, podcast, hingga berbagai platform digital lainnya. Menurut Muhajir, kondisi tersebut tidak seharusnya dipandang hanya sebagai ancaman. Sebaliknya, perkembangan teknologi harus dilihat sebagai peluang dakwah. Aktivis dakwah harus mampu memasuki ruang-ruang tersebut dengan konten yang berkualitas, bahasa yang komunikatif, dan pesan yang memberikan solusi. Dakwah tidak cukup hanya berbicara mengenai apa yang benar dan salah. Dakwah juga harus mampu menjawab keresahan anak muda: tentang pendidikan, pekerjaan, keluarga, pergaulan, kesehatan sosial, ekonomi, hingga masa depan mereka. Di sinilah kemampuan komunikasi menjadi penting. Pesan yang baik membutuhkan cara penyampaian yang baik agar dapat diterima oleh masyarakat. Muhajir juga mendorong mahasiswa agar tidak alergi terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, menjadi generasi yang religius tidak berarti harus menjauh dari teknologi. Justru teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas manfaat. Pemuda Harus Berani Masuk ke Ruang Publik Pesan lain yang mengemuka adalah pentingnya keberanian pemuda memasuki berbagai ruang pengabdian. Pemuda Islam, khususnya aktivis lembaga dakwah kampus, tidak boleh membatasi diri hanya pada aktivitas internal kampus. Mereka harus berani hadir di tengah masyarakat. Masuk ke ruang pendidikan, sosial, ekonomi, pemerintahan, media, politik, maupun dunia profesional. Menurut Muhajir, nilai-nilai keislaman akan semakin memiliki dampak ketika diwujudkan dalam kerja nyata. Seorang aktivis dakw