PARIAMAN — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Iman, Desa Naras 1, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, menjadi ruang bagi jamaah untuk kembali mengingat keteladanan Rasulullah SAW dalam menjalani kehidupan.
Pada kesempatan tersebut, Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., hadir sebagai penceramah. Di hadapan jamaah, Muhajir mengajak umat Islam untuk tidak hanya memperingati kelahiran Rasulullah SAW sebagai bagian dari tradisi keagamaan, tetapi juga menjadikan kehidupan dan akhlak beliau sebagai pedoman dalam keseharian.
Pesan tersebut menjadi inti ceramah Muhajir dalam kegiatan Maulid Nabi yang berlangsung di Masjid Nurul Iman. Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah seharusnya tidak berhenti pada ungkapan dan peringatan, tetapi diwujudkan melalui perilaku yang mengikuti ajaran serta keteladanan beliau.
Rasulullah sebagai Suri Teladan
Dalam ceramahnya, Muhajir mengajak jamaah untuk melihat kembali bagaimana Rasulullah SAW menjalani kehidupan. Nabi Muhammad dikenal bukan hanya sebagai pembawa risalah, tetapi juga sebagai sosok yang memberikan contoh dalam berhubungan dengan Allah, keluarga, tetangga, masyarakat, hingga orang-orang yang berbeda pandangan dengan beliau.
Keteladanan itu, menurut Muhajir, tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan umat Islam saat ini.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, umat menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi dan media sosial, misalnya, membuat seseorang semakin mudah berkomunikasi, tetapi pada saat yang sama juga dapat memengaruhi cara berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain.
Karena itu, nilai-nilai yang dicontohkan Rasulullah seperti kejujuran, kesabaran, kasih sayang, amanah, dan kepedulian terhadap sesama menjadi penting untuk terus dihidupkan.
Muhajir menekankan bahwa meneladani Rasulullah bukan berarti hanya mengingat sejarah kehidupan beliau, tetapi berusaha menghadirkan akhlak Rasul dalam kehidupan nyata.
Keteladanan Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Pesan Maulid yang disampaikan Muhajir juga dapat diterapkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Keteladanan tidak selalu harus diwujudkan dalam sesuatu yang besar. Cara seseorang berbicara kepada orang tua, memperlakukan pasangan dan anak, menghormati tetangga, serta menjaga hubungan dengan sesama merupakan bagian dari praktik akhlak sehari-hari.
Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai persaudaraan dan kepedulian yang dicontohkan Rasulullah dapat menjadi landasan untuk memperkuat hubungan antarwarga.
Masjid sebagai tempat berkumpulnya masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga nilai tersebut. Peringatan Maulid Nabi menjadi salah satu momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengingatkan kembali nilai-nilai agama yang terkadang terabaikan dalam kesibukan kehidupan.
Muhajir mengajak jamaah untuk menjadikan peringatan Maulid sebagai titik awal melakukan refleksi. Seberapa jauh ajaran Rasulullah telah tercermin dalam kehidupan masing-masing menjadi pertanyaan yang penting untuk dijawab bersama.
Maulid Bukan Sekadar Seremoni
Peringatan Maulid Nabi pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Lebih jauh, momentum tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperkuat komitmen dalam menjalankan ajaran Islam.
Bagi Muhajir, kecintaan kepada Rasulullah perlu terlihat dalam sikap. Ketika umat mengaku mencintai Rasulullah, maka nilai-nilai yang beliau ajarkan semestinya turut hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan itu menjadi semakin relevan bagi generasi muda. Di tengah derasnya arus informasi dan beragam figur yang muncul di ruang digital, umat Islam perlu memiliki rujukan keteladanan yang kuat.
Rasulullah SAW dapat menjadi sosok yang dijadikan contoh dalam membangun karakter, menjaga perkataan, mengambil keputusan, menghadapi persoalan, dan memperlakukan orang lain dengan penuh penghormatan.
Kegiatan Maulid Nabi di Masjid Nurul Iman Desa Naras 1 pun menjadi ruang untuk mempertemukan nilai keagamaan dengan kehidupan masyarakat. Jamaah tidak hanya diajak mengenang Rasulullah, tetapi juga mengambil pelajaran dari akhlak beliau untuk diterapkan sesuai dengan tantangan kehidupan masa kini.
Di tengah masyarakat yang terus berubah, keteladanan Rasulullah tetap memiliki tempat penting. Pesan yang disampaikan Muhajir mengarah pada satu hal sederhana: mencintai Rasulullah tidak cukup hanya dengan memperingati kelahirannya, tetapi perlu dibuktikan dengan usaha untuk mengikuti akhlak dan ajaran beliau dalam kehidupan.
Dengan demikian, Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Allah, memperkuat hubungan dengan sesama, serta membangun kehidupan masyarakat yang lebih berakhlak dan saling menghargai.





