Muhajir Muslim Ajak Ibu Hadirkan Sosok Ayah di Hati Anak

PARIAMAN — Ada satu hal yang sering luput dalam pembicaraan tentang pendidikan anak: bukan hanya soal bagaimana ibu mendidik, tetapi juga bagaimana seorang ibu membantu menghadirkan sosok ayah dalam kehidupan anak.

Pesan tersebut menjadi benang merah materi yang disampaikan Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., saat menjadi pemateri dalam kegiatan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kecamatan Pariaman Selatan di Musholla Ar-Raudhah, Padang Cakur, Minggu (27/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Padang Cakur Ramadhani dan Kepala KUA Kecamatan Pariaman Selatan Aldi Arman, S.H.I., serta jamaah BKMT Kecamatan Pariaman Selatan.

Mengangkat tema “Ibu, Hadirkan Ayah di Hati Anak”, Muhajir mengajak jamaah melihat kembali dinamika keluarga di tengah kehidupan yang semakin sibuk.

Suasana kegiatan berlangsung sederhana dan penuh keakraban. Jamaah mengikuti materi sambil menyimak berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan keluarga sehari-hari.

Ketika Ayah Ada, tetapi Tidak Hadir

Memulai materinya, Muhajir mengajak jamaah membedakan antara keberadaan seorang ayah di rumah dengan kehadiran seorang ayah dalam kehidupan anak.

Seorang ayah bisa saja berada dalam satu rumah setiap hari. Namun, kesibukan pekerjaan, penggunaan gawai, maupun minimnya komunikasi dapat membuat hubungan emosional antara ayah dan anak menjadi semakin jauh.

Di sinilah peran ibu menjadi penting.

Bukan untuk menggantikan peran ayah, tetapi membantu membangun jembatan antara ayah dan anak.

Menurut Muhajir, seorang ibu dapat membantu anak mengenali sisi positif ayahnya, mengajak anak menghargai usaha ayah, serta menciptakan kesempatan agar keduanya memiliki waktu bersama.

“Kadang ayah ada di rumah, tetapi belum tentu hadir di hati anak. Begitu juga sebaliknya, anak ada di rumah, tetapi belum tentu ayah benar-benar mengenal apa yang sedang dirasakan anak,” pesan Muhajir kepada jamaah.

Menurutnya, kedekatan tersebut tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan besar.

Bisa dimulai dari hal sederhana: makan bersama, berbicara sebelum tidur, mengantar anak sekolah, mendengarkan cerita anak, atau sekadar bertanya bagaimana hari yang telah mereka jalani.

Ibu Bukan Pengganti Ayah

Muhajir menekankan bahwa materi tersebut bukan bermaksud memberikan beban tambahan kepada ibu. Justru, ia ingin mengingatkan bahwa membangun keluarga merupakan tanggung jawab bersama. Ibu memiliki peran penting dalam mendampingi anak, tetapi ayah juga memiliki tanggung jawab yang tidak dapat digantikan.

Dalam keluarga, anak membutuhkan sosok yang memberikan kasih sayang, perlindungan, keteladanan sekaligus arahan. Karena itu, ayah tidak cukup hanya hadir sebagai pencari nafkah. Peran tersebut memang penting, tetapi kebutuhan anak jauh lebih luas.

Anak juga membutuhkan seseorang yang mendengarkan cerita mereka, mengetahui kegelisahan mereka, memberikan apresiasi ketika mereka berhasil, serta menjadi tempat ketika mereka mengalami kegagalan.

Muhajir mengajak para ibu yang hadir untuk tidak secara tidak sengaja membuat hubungan ayah dan anak menjadi semakin jauh.

Sebaliknya, ibu dapat menjadi penghubung yang memperkuat hubungan tersebut.

Jangan Membuat Anak Hanya Mengenal Ayah dari Nasihat Ibu

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang anak lebih banyak berinteraksi dengan ibu. Akibatnya, berbagai kebutuhan anak, mulai dari sekolah, makanan, kesehatan hingga persoalan pergaulan, lebih sering ditangani ibu. Kondisi tersebut bisa membuat anak memiliki kedekatan emosional yang lebih kuat dengan ibu dibandingkan ayah.

Namun, menurut Muhajir, kondisi itu tidak seharusnya membuat ayah kehilangan tempat dalam kehidupan anak. Ibu dapat mendorong anak untuk berinteraksi dengan ayah.

Ketika anak memiliki masalah, misalnya, tidak selalu harus ibu yang memberikan solusi. Ada saatnya anak diarahkan untuk berdiskusi dengan ayah. Begitu pula ketika anak memiliki prestasi. Ayah perlu diberi ruang untuk memberikan apresiasi. Dengan demikian, anak memahami bahwa kedua orang tuanya memiliki tempat dan peran masing-masing.

Ayah Juga Harus Mau Berubah

Di sisi lain, Muhajir mengingatkan bahwa membangun kedekatan antara ayah dan anak bukan hanya pekerjaan ibu. Para ayah juga harus bersedia membuka diri. Kesibukan mencari nafkah jangan sampai menjadi alasan untuk kehilangan waktu bersama keluarga.

Menurutnya, waktu bersama anak merupakan investasi yang tidak dapat digantikan dengan materi. Anak mungkin tidak selalu mengingat berapa banyak uang yang diberikan orang tua. Namun, mereka cenderung mengingat pengalaman ketika orang tua hadir dalam momen penting kehidupannya.

Ketika mendapatkan nilai bagus. Ketika mengikuti perlombaan. Ketika sedang sakit. Ketika mengalami kegagalan. Bahkan ketika hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan cerita sederhana. Pada momen-momen seperti itulah kehadiran ayah memiliki arti.

Tantangan Keluarga di Era Digital

Pembahasan semakin relevan ketika dikaitkan dengan perkembangan teknologi. Anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi orang tua mereka. Telepon pintar dan media sosial membuat anak memiliki dunia sendiri yang terkadang sulit dipahami orang tua.

Dalam kondisi seperti ini, komunikasi keluarga menjadi semakin penting. Orang tua tidak cukup hanya melarang atau mengawasi penggunaan gawai. Mereka juga harus memahami dunia anak.

Ayah dan ibu perlu mengetahui apa yang ditonton anak, siapa yang menjadi teman mereka di dunia digital, serta persoalan apa yang sedang mereka hadapi. Menurut Muhajir, komunikasi yang terbuka akan membuat anak lebih mudah bercerita dan meminta bantuan ketika menghadapi persoalan.

Peran BKMT Memperkuat Keluarga

Kegiatan BKMT Kecamatan Pariaman Selatan di Musholla Ar-Raudhah juga menjadi ruang untuk memperkuat peran perempuan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Muhajir berharap majelis taklim tidak hanya menjadi tempat mendapatkan pengetahuan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang bertukar pengalaman mengenai persoalan kehidupan sehari-hari.

Tema keluarga, pendidikan anak, komunikasi orang tua dan perkembangan generasi muda merupakan persoalan yang dekat dengan kehidupan jamaah. Karena itu, pembahasan tersebut dapat menjadi bekal yang dibawa pulang dan diterapkan di rumah masing-masing.

Kehadiran Kepala Desa Padang Cakur Ramadhani dan Kepala KUA Kecamatan Pariaman Selatan Aldi Arman, S.H.I., turut memperlihatkan dukungan terhadap kegiatan pembinaan keagamaan masyarakat.

Pesan yang Dibawa Pulang

Di akhir materi, Muhajir kembali mengajak jamaah melihat keluarga sebagai tempat pertama seorang anak belajar tentang kehidupan. Ayah dan ibu memiliki peran berbeda, tetapi keduanya saling melengkapi.

Ibu dapat membantu anak mengenal sosok ayah dengan lebih dekat. Sementara ayah harus berusaha hadir dan membangun hubungan emosional dengan anak. Sebab, menghadirkan ayah di hati anak bukan sekadar membuat anak menghormati orang tua.

Lebih dari itu, anak membutuhkan sosok ayah sebagai teladan, tempat bertanya dan sumber rasa aman. Kegiatan BKMT di Musholla Ar-Raudhah pun menjadi ruang sederhana untuk membicarakan persoalan yang sebenarnya sangat dekat dengan setiap keluarga. Dari sebuah majelis taklim di Padang Cakur, Muhajir mengingatkan satu hal yang mungkin sering terlupakan:

Anak tidak hanya membutuhkan ayah yang bekerja untuknya. Anak juga membutuhkan ayah yang hadir untuknya.

Dan untuk menghadirkan sosok itu di hati anak, terkadang langkah pertama justru dimulai dari rumah—dari seorang ibu yang membuka ruang agar ayah dan anak kembali saling menemukan.

Terbaru

  • All Posts
  • Kegiatan

#pkspelayanrakyat

Partai Keadilan Sejahtera berkomitmen penuh untuk menjadi pelayan Rakyat Indonesia

seorang da’i lulusan Universitas Al Azhar Mesir yang kini berkhidmat sebagai Ketua DPRD Kota Pariaman #ustadketua

muhajirmuslim.id@gmail.com

0812678910

© 2023 Created with love by brandingbisnis.com