PARIAMAN — Menjadi perempuan berdaya bukan hanya tentang keberanian meraih cita-cita, tetapi juga kemampuan mengenali harga diri, menjaga prinsip, dan mengambil keputusan yang baik bagi masa depan. Pesan inilah yang mengemuka dalam kegiatan Girls Talk bertema “Ruang Aman bagi Perempuan: Perempuan Itu Berdaya, Jaga Diri, Hargai Masa Depan” di Aula Rumah Makan Joyo Makmur, Kota Pariaman, Sabtu (17/10/2026).
Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., hadir sebagai narasumber dalam kegiatan yang digagas Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kota Pariaman tersebut. Puluhan peserta yang terdiri atas siswi SMA, SMK, MA, dan sederajat se-Kota Pariaman mengikuti kegiatan yang membahas pemberdayaan perempuan di tengah tantangan pergaulan modern.
Dalam kesempatan itu, Muhajir menyampaikan materi mengenai membangun izzah muslimah di tengah tantangan pergaulan modern. Pembahasan ini menempatkan harga diri, nilai keislaman, dan kemampuan menjaga prinsip sebagai bekal penting bagi perempuan muda dalam menjalani kehidupan.
Menjadi Muslimah yang Berdaya dan Mengenali Nilai Diri
Masa remaja merupakan fase ketika seseorang mulai membentuk identitas, memperluas pergaulan, dan menentukan arah masa depan. Pada fase ini, pengaruh lingkungan pertemanan, tren, serta media sosial dapat ikut membentuk cara pandang terhadap diri sendiri.
Karena itu, pembicaraan mengenai ruang aman bagi perempuan menjadi relevan. Perempuan muda perlu mendapatkan lingkungan yang mendukung mereka untuk belajar, menyampaikan pendapat, mengembangkan potensi, dan bertumbuh tanpa tekanan maupun perlakuan yang merendahkan.
Materi tentang izzah muslimah yang disampaikan Muhajir mengangkat pentingnya memahami kemuliaan dan kehormatan diri sebagai seorang muslimah. Nilai tersebut dapat tercermin melalui sikap, tutur kata, cara bergaul, serta keputusan yang diambil dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga kehormatan diri bukan berarti membatasi perempuan untuk berprestasi atau berpartisipasi di ruang publik. Sebaliknya, perempuan tetap dapat aktif dalam pendidikan, organisasi, kegiatan sosial, dan berbagai bidang lainnya dengan berpegang pada nilai yang diyakini.
Perempuan berdaya juga bukan perempuan yang harus menghadapi seluruh persoalan sendirian. Mereka berhak mendapatkan dukungan, didengarkan ketika menghadapi kesulitan, dan memperoleh pertolongan saat berada dalam situasi yang tidak aman.
Ruang Aman Dimulai dari Lingkungan yang Menghargai
Tema Girls Talk kali ini tidak hanya mengajak peserta berbicara tentang bagaimana perempuan menjaga dirinya, tetapi juga membuka perhatian terhadap tanggung jawab lingkungan dalam menciptakan ruang yang aman.
Ruang aman dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membangun pertemanan yang saling menghormati, tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan ejekan, menjaga privasi, serta berani menolak perilaku yang membuat seseorang merasa terancam atau tidak nyaman.
Di era digital, tantangannya semakin beragam. Komentar merendahkan, perundungan daring, penyebaran foto tanpa izin, hingga tekanan untuk mengikuti tren tertentu dapat memengaruhi rasa aman dan kepercayaan diri perempuan muda.
Dalam situasi seperti itu, kemampuan mengenali batasan pribadi dan mencari bantuan dari orang dewasa tepercaya menjadi hal penting. Sekolah, keluarga, organisasi kepemudaan, dan komunitas perlu mengambil peran agar perempuan muda mengetahui bahwa mereka tidak harus diam ketika menghadapi perlakuan yang tidak pantas.
Pesan tentang menjaga diri dan menghargai masa depan dengan demikian tidak semestinya dibebankan kepada perempuan saja. Menciptakan ruang aman merupakan tanggung jawab bersama, termasuk dengan membangun budaya pergaulan yang menghormati martabat setiap orang.

Apresiasi atas Kolaborasi untuk Perempuan Muda
Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Pariaman, Endrawati, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Girls Talk dinilai menjadi ruang yang bermanfaat untuk menghadirkan pembahasan tentang perempuan, khususnya bagi kalangan pelajar yang sedang berada dalam fase penting pembentukan karakter dan jati diri.
Apresiasi itu sekaligus menunjukkan pentingnya kerja sama antarlembaga dalam menghadirkan kegiatan edukatif bagi generasi muda. Persoalan perempuan tidak cukup dibicarakan dalam lingkup keluarga atau sekolah saja, tetapi membutuhkan dukungan berbagai pihak agar pesan pemberdayaan dapat menjangkau lebih banyak kalangan.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kota Pariaman, Ayunda Siska, menyampaikan terima kasih kepada Muhajir Muslim atas kesediaannya bekerja sama dan memfasilitasi kegiatan tersebut.
Bagi Nasyiatul Aisyiyah, kegiatan seperti ini menjadi kesempatan untuk mendekatkan ruang diskusi kepada kebutuhan nyata perempuan muda. Para siswi tidak hanya membutuhkan pengetahuan akademik, tetapi juga bekal untuk menghadapi persoalan pergaulan, membangun kepercayaan diri, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat diperkuat melalui pertemuan gagasan, dukungan kelembagaan, dan ruang dialog yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Menjaga Diri, Menyiapkan Masa Depan
Melalui Girls Talk, para peserta diajak melihat bahwa masa depan dibangun melalui pilihan-pilihan yang dilakukan sejak sekarang. Pendidikan, pengembangan keterampilan, pemilihan lingkungan pertemanan, dan kemampuan memahami diri menjadi bagian dari proses tersebut.
Menjaga prinsip tidak berarti menutup diri dari perubahan zaman. Perempuan muda tetap perlu belajar, berani mencoba hal baru, memperluas wawasan, serta memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan kemampuan. Yang terpenting, setiap langkah dijalani dengan kesadaran terhadap nilai diri dan konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Kegiatan di Aula Rumah Makan Joyo Makmur ini menjadi pengingat bahwa perempuan muda membutuhkan lebih dari sekadar nasihat. Mereka membutuhkan lingkungan yang mendukung, kesempatan untuk berkembang, serta orang-orang yang bersedia mendengarkan dan mendampingi.
Pada akhirnya, membangun izzah muslimah bukan semata-mata tentang menjaga citra di hadapan orang lain, melainkan memahami nilai diri dan menjadikannya dasar dalam menjalani kehidupan. Dengan bekal tersebut, perempuan muda diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berprinsip, berprestasi, dan siap menghadapi masa depan.
Melalui kolaborasi antara Nasyiatul Aisyiyah, Aisyiyah, dan berbagai unsur masyarakat, pesan tentang perempuan berdaya diharapkan tidak berhenti di ruang diskusi. Pesan itu perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, melalui lingkungan yang saling menghormati, kesempatan yang terbuka, dan komitmen bersama untuk menjaga ruang aman bagi perempuan.





