PARIAMAN — Memimpin lembaga legislatif tidak selalu harus dimulai dari gedung parlemen. Bagi Ketua DPRD Kota Pariaman, Muhajir Muslim, Lc., tahun pertama masa jabatannya justru banyak diwarnai dengan aktivitas yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan dan kebutuhan masyarakat.
Sepanjang tahun 2025, sejumlah program dan perhatian Muhajir Muslim menyasar sektor pendidikan. Mulai dari membantu memetakan minat dan bakat siswa, memperjuangkan akses jalan menuju madrasah yang selama bertahun-tahun kurang mendapat perhatian, hingga membenahi fasilitas sekolah yang kondisinya membutuhkan perbaikan.
Empat kiprah tersebut menjadi bagian dari catatan tahun pertama Muhajir Muslim sebagai Ketua DPRD Kota Pariaman.
Jika ditarik benang merah, semuanya bermuara pada satu hal: membangun manusia tidak cukup hanya dengan berbicara tentang pendidikan, tetapi juga memastikan anak-anak belajar di lingkungan yang layak dan memiliki ruang untuk mengembangkan potensi dirinya.
Memulai dari Potensi Anak Muda

Kiprah pertama Muhajir Muslim pada tahun pertama kepemimpinannya adalah melaksanakan pemetaan minat dan bakat siswa SMP sederajat di Kecamatan Pariaman Timur dan Pariaman Selatan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Pariaman. Gagasan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Ada siswa yang memiliki kemampuan akademik kuat. Ada yang menonjol dalam olahraga. Ada yang memiliki bakat seni, kepemimpinan, teknologi, maupun bidang lainnya.
Persoalannya, potensi tersebut tidak selalu teridentifikasi sejak awal. Melalui pemetaan minat dan bakat, siswa diharapkan dapat mengenali kecenderungan kemampuan dirinya sekaligus memperoleh arah pengembangan yang lebih sesuai. Bagi Muhajir, pendidikan tidak seharusnya menggunakan pendekatan yang seragam kepada semua anak.
Setiap anak memiliki karakter dan keunggulan masing-masing. Karena itu, pemetaan menjadi penting agar sekolah, orang tua dan pemerintah memiliki gambaran yang lebih baik mengenai potensi generasi muda. Langkah ini juga memperlihatkan bahwa perhatian terhadap pendidikan tidak hanya berbicara mengenai pembangunan gedung sekolah. Membangun pendidikan berarti membangun manusianya.
Belasan Tahun Menunggu Jalan yang Layak

Kiprah berikutnya bergerak dari ruang kelas menuju akses pendidikan. Jalan menuju MAN Kota Pariaman menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian Muhajir Muslim.
Selama belasan tahun, akses menuju madrasah tersebut dinilai belum mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah.
Kondisi jalan bukan sekadar persoalan infrastruktur. Bagi warga sekolah, akses jalan merupakan bagian dari penunjang aktivitas pendidikan sehari-hari. Setiap hari guru, siswa, tenaga kependidikan dan masyarakat harus melewati akses tersebut.
Karena itu, pengaspalan jalan menuju MAN Kota Pariaman menjadi salah satu perhatian penting Muhajir pada tahun pertama menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Pariaman. Perbaikan tersebut memberikan perubahan nyata terhadap akses menuju lingkungan pendidikan.
Bagi siswa, jalan yang lebih layak berarti perjalanan menuju sekolah menjadi lebih nyaman. Bagi guru dan masyarakat, akses yang baik juga mendukung mobilitas dan aktivitas di sekitar madrasah. Persoalan yang selama bertahun-tahun menunggu akhirnya mulai mendapatkan jalan keluar.
Atap Sekolah yang Kembali Aman

Perhatian Muhajir terhadap dunia pendidikan kemudian berlanjut ke SMP Negeri 6 Pariaman. Kondisi atap sekolah yang membutuhkan perbaikan menjadi persoalan yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.
Atap sekolah bukan sekadar bagian dari bangunan. Ia menyangkut keamanan dan kenyamanan siswa serta guru ketika proses belajar mengajar berlangsung.
Karena itu, perbaikan atau rehabilitasi atap SMP Negeri 6 Pariaman menjadi bagian dari kiprah Muhajir dalam memperhatikan fasilitas pendidikan.
Sekolah yang layak bukan hanya tentang ruang kelas yang tersedia, tetapi juga mengenai apakah bangunan tersebut aman digunakan. Bagi siswa, rasa aman merupakan bagian penting dari proses belajar. Mereka datang ke sekolah untuk memperoleh ilmu, bukan untuk menghadapi kekhawatiran terhadap kondisi bangunan yang mereka tempati.
Rehabilitasi tersebut menjadi salah satu contoh bahwa persoalan pendidikan sering kali membutuhkan perhatian pada hal-hal yang terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap aktivitas sehari-hari.
Merehab SDN 04 Batang Tajongkek

Kiprah keempat berlanjut ke SD Negeri 04 Batang Tajongkek, Kota Pariaman. Sekolah dasar merupakan fondasi awal pendidikan anak. Di tempat inilah anak-anak mulai membangun kemampuan membaca, berhitung, bersosialisasi dan mengenal berbagai pengetahuan.
Karena itu, kondisi lingkungan sekolah memiliki pengaruh terhadap proses pendidikan. Melalui rehabilitasi SDN 04 Batang Tajongkek, perhatian kembali diarahkan pada pembenahan fasilitas pendidikan di tingkat dasar. Bagi masyarakat sekitar, perbaikan sekolah bukan hanya memperbaiki sebuah bangunan. Ia merupakan investasi untuk anak-anak mereka.
Sekolah yang lebih baik memberikan lingkungan belajar yang lebih nyaman sekaligus menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan di wilayah tersebut mendapatkan perhatian.
Empat Kiprah, Satu Benang Merah
Jika empat kiprah tersebut dilihat secara terpisah, semuanya tampak seperti kegiatan yang berbeda. Pemetaan minat dan bakat berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia. Pengaspalan jalan menuju MAN Kota Pariaman berkaitan dengan infrastruktur. Rehabilitasi atap SMP Negeri 6 Pariaman berkaitan dengan keamanan fasilitas sekolah. Sementara rehabilitasi SD Negeri 04 Batang Tajongkek berkaitan dengan peningkatan kualitas lingkungan pendidikan.
Namun jika disatukan, terdapat satu benang merah yang kuat: pendidikan. Muhajir Muslim menjadikan sektor pendidikan sebagai salah satu perhatian dalam tahun pertamanya memimpin DPRD Kota Pariaman. Pendekatan yang dilakukan pun tidak hanya menyentuh satu sisi.
Ada perhatian terhadap anaknya, melalui pemetaan minat dan bakat. Ada perhatian terhadap aksesnya, melalui pengaspalan jalan menuju madrasah. Ada perhatian terhadap keamanan bangunannya, melalui rehabilitasi atap SMP Negeri 6. Dan ada perhatian terhadap lingkungan belajarnya, melalui rehabilitasi SD Negeri 04 Batang Tajongkek.
Empat langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan memang membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.
Tahun Pertama yang Berorientasi pada Pendidikan
Menjadi Ketua DPRD bukan sekadar posisi administratif. Ada tanggung jawab representasi yang mengharuskan seorang wakil rakyat mendengar kebutuhan masyarakat dan memperjuangkannya dalam ruang kebijakan.
Tahun pertama Muhajir Muslim menjadi Ketua DPRD Kota Pariaman menunjukkan salah satu fokus tersebut. Dari siswa SMP di Pariaman Timur dan Pariaman Selatan, hingga siswa MAN Kota Pariaman, SMP Negeri 6 Pariaman dan SD Negeri 04 Batang Tajongkek, perhatian terhadap pendidikan hadir dalam bentuk yang berbeda.
Ada pekerjaan yang menyentuh masa depan anak melalui pemetaan potensi. Ada pula pekerjaan yang menyentuh kebutuhan hari ini melalui perbaikan infrastruktur.
Semua bermuara pada harapan yang sama: agar anak-anak Kota Pariaman memperoleh kesempatan belajar dalam kondisi yang lebih baik dan mampu mengembangkan potensi mereka secara maksimal. Sebab, membangun sebuah kota tidak hanya berarti membangun jalan dan gedung. Ada manusia yang harus dipersiapkan. Dan sekolah adalah salah satu tempat paling penting untuk mempersiapkan manusia itu.
Setahun pertama Muhajir Muslim sebagai Ketua DPRD Kota Pariaman pun meninggalkan sebuah catatan: bahwa keberpihakan terhadap pendidikan dapat dimulai dari dua arah sekaligus—membangun kualitas manusianya dan membenahi lingkungan tempat mereka belajar.
Dari pemetaan bakat hingga aspal jalan, dari atap sekolah hingga rehabilitasi ruang pendidikan, semuanya menjadi bagian dari perjalanan satu tahun pertama seorang Ketua DPRD dalam menyentuh kebutuhan masyarakat Kota Pariaman.





