Tak Sekadar Cek Bangunan, Muhajir Muslim Berdialog dengan Warga Saat Monitoring Pokir di Marunggi

PARIAMAN — Monitoring pembangunan bagi seorang wakil rakyat tidak selalu harus berlangsung di ruang rapat dengan tumpukan dokumen. Senin (28/9/2026), Ketua DPRD Kota Pariaman Muhajir Muslim, Lc., memilih turun langsung ke tengah masyarakat untuk melihat perkembangan pembangunan Pos Keamanan Lingkungan (Poskamling) di Desa Marunggi, Kecamatan Pariaman Selatan. Poskamling tersebut merupakan salah satu realisasi pokok-pokok pikiran (pokir) Ketua DPRD Kota Pariaman melalui anggaran tahun 2026. Dalam kunjungan monitoring tersebut, Muhajir didampingi langsung oleh Kepala Desa Marunggi, Syaiful Bahri. Keduanya melihat kondisi pembangunan sekaligus berdialog dengan masyarakat dan para pekerja yang sedang menyelesaikan pembangunan Poskamling. Kehadiran Muhajir tidak berlangsung dalam suasana formal. Sesekali ia berbincang dengan pekerja, menanyakan proses pembangunan, kondisi pekerjaan, hingga kebutuhan yang diperlukan agar pembangunan dapat berjalan dengan baik. Melihat Langsung Progres di Lapangan Turun langsung ke lokasi menjadi kesempatan bagi Muhajir untuk melihat sejauh mana realisasi pembangunan yang telah berjalan. Baginya, monitoring tidak cukup hanya dilakukan melalui laporan administrasi. Melihat langsung kondisi di lapangan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai proses pekerjaan, termasuk hal-hal yang mungkin tidak terlihat dari laporan tertulis. Muhajir melihat bagian-bagian bangunan yang sedang dikerjakan dan berdiskusi dengan pihak yang terlibat dalam pembangunan. Ia juga memastikan agar pembangunan dilaksanakan dengan baik dan dapat memberikan manfaat sesuai kebutuhan masyarakat. Poskamling tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu fasilitas pendukung keamanan lingkungan sekaligus ruang interaksi masyarakat. Keberadaan fasilitas semacam ini memiliki fungsi yang cukup dekat dengan kehidupan warga. Di satu sisi menjadi tempat masyarakat menjalankan kegiatan ronda dan menjaga keamanan lingkungan. Di sisi lain, poskamling juga dapat menjadi ruang berkumpul warga dalam suasana yang lebih santai. Berdialog dengan Pekerja Ada pemandangan yang cukup menarik selama monitoring berlangsung. Alih-alih hanya melihat bangunan dari kejauhan, Muhajir mendekati para pekerja yang sedang melakukan aktivitas pembangunan. Percakapan berlangsung sederhana. Ia menanyakan bagaimana proses pekerjaan berjalan, bagian mana yang sedang dikerjakan, hingga kendala yang mungkin ditemui selama pembangunan. Bagi para pekerja, perhatian tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap pekerjaan yang sedang mereka lakukan. Sementara bagi Muhajir, percakapan dengan pekerja dapat memberikan informasi langsung mengenai kondisi pembangunan. Tidak ada jarak yang terlalu formal. Suasana monitoring pun berlangsung seperti percakapan sehari-hari antara warga dan wakilnya. Mendengar Suara Masyarakat Setelah melihat pembangunan, Muhajir juga menyempatkan diri berinteraksi dengan masyarakat Desa Marunggi. Ia mendengarkan berbagai cerita dan kebutuhan yang disampaikan warga. Momen seperti ini menjadi bagian penting dari kegiatan monitoring. Sebab, pokir pada dasarnya berasal dari kebutuhan masyarakat yang disampaikan melalui proses penyerapan aspirasi. Karena itu, ketika program tersebut direalisasikan, komunikasi dengan masyarakat tetap diperlukan. Muhajir mengatakan bahwa pembangunan tidak boleh hanya dilihat dari bentuk fisiknya. Yang lebih penting adalah apakah hasil pembangunan tersebut benar-benar dibutuhkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. “Kita ingin setiap pembangunan yang direalisasikan benar-benar memberikan manfaat. Karena itu, kita perlu turun melihat langsung, bukan hanya melihat laporan. Sekaligus kita bisa mendengar langsung dari masyarakat apa yang mereka rasakan dan apa yang masih dibutuhkan,” ujar Muhajir. Poskamling dan Semangat Gotong Royong Bagi masyarakat Desa Marunggi, keberadaan Poskamling memiliki arti tersendiri. Keamanan lingkungan bukan hanya tanggung jawab aparat. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan tempat tinggalnya. Kegiatan ronda, saling mengenal antarwarga, serta kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari sistem keamanan berbasis masyarakat. Karena itu, pembangunan Poskamling diharapkan dapat kembali menghidupkan semangat tersebut. Bangunan fisik hanyalah fasilitas. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana fasilitas tersebut digunakan dan dirawat bersama. Muhajir juga mendorong masyarakat agar menjaga hasil pembangunan yang telah direalisasikan. Dengan adanya rasa memiliki, fasilitas tersebut diharapkan dapat digunakan dalam jangka panjang. Monitoring yang Lebih Dekat Kegiatan di Desa Marunggi menunjukkan bahwa monitoring program pembangunan dapat dilakukan dengan cara yang sederhana. Tidak harus selalu melalui forum resmi. Turun ke lapangan, berbincang dengan pekerja, menyapa warga, dan melihat kondisi pembangunan secara langsung justru dapat membuka ruang komunikasi yang lebih natural. Bagi seorang wakil rakyat, cara seperti ini juga memberikan kesempatan untuk memahami kondisi masyarakat secara lebih dekat. Di sela-sela melihat bangunan, ada cerita warga yang didengar. Di antara percakapan dengan pekerja, ada informasi mengenai proses pembangunan yang diperoleh. Hal-hal sederhana tersebut menjadi bagian dari proses memastikan bahwa program yang direalisasikan tidak berhenti pada laporan administratif. Dari Marunggi untuk Masyarakat Monitoring realisasi pokir di Desa Marunggi akhirnya bukan hanya tentang melihat perkembangan sebuah Poskamling. Ada interaksi yang terbangun antara wakil rakyat, pemerintah desa, pekerja dan masyarakat. Ada pula pesan bahwa pembangunan akan memiliki arti ketika masyarakat merasa ikut memiliki. Muhajir berharap pembangunan Poskamling tersebut dapat selesai dengan baik dan kemudian dimanfaatkan sebagaimana mestinya. “Mudah-mudahan fasilitas ini bisa bermanfaat untuk masyarakat dan dirawat bersama. Yang kita bangun bukan hanya bangunannya, tetapi juga semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan,” katanya. Senin itu, pembangunan sebuah Poskamling menjadi titik pertemuan berbagai kepentingan: program pemerintah, aspirasi masyarakat, kerja para pekerja, dan tanggung jawab wakil rakyat. Dari Desa Marunggi, satu hal terlihat jelas—monitoring pembangunan tidak harus selalu kaku. Kadang, kualitas sebuah program justru lebih mudah dipahami ketika wakil rakyat turun langsung, duduk bersama warga, dan mendengarkan cerita mereka.